kamar depan

tuannico

Menulis Puisi

ra·cau, me·ra·cau v berbicara tidak keruan (waktu sakit, demam, dsb); mengigau
ra.cau.an n hasil meracau; ocehan; igauan

Jika apa yang sejak dulu saya tulis bisa disebut puisi, berarti saya sudah menulis puisi selama enam belas tahun.

Saya menamakan tulisan saya itu sebagai racauan. Saya menulis di kertas-kertas, halaman belakang buku sekolah, buku-buku catatan kuliah, kertas buram, meja-meja kayu, bahkan saya menulis di lacinya juga. Saya punya dua atau tiga buku tulis khusus dan ratusan lembar tercecer yang saya kumpulkan. Sialnya, saya lupa kertas-kertas itu ada di mana sekarang. Kegiatan menulis itu dilakukan sejak sma hingga sekolah tinggi. Seingat saya, jumlah racauan mencapai empat ratus lebih. Dari yang awalnya berupa sehari selembar, hingga sebulan selembar, lalu setahun selembar, kemudian selembar untuk beberapa tahun. Akhirnya kebiasaan menulis racauan di kertas itu menghilang. Memudar seiring kegemaran saya menulis dengan keyboard di blog, di Notepad atau Ms. Word.

Di Twitter, saya terkadang menulis racauan pendek 140 karakter. Sedangkan di blog ini, racauan bukan lagi racauan, melainkan sudah tercampur dengan tulisan-tulisan sembarang lainnya (tulisan-tulisan yang sesungguhnya memang racauan dalam arti sebenarnya). Makna racauan versi saya telah kabur. Racauan telah kehilangan identitasnya, meskipun beberapa tulisan masih memilikinya (yang saya beri label mungkin puisi).

Dulu, saya tidak berani menyebut kumpulan tulisan di kertas-kertas itu sebagai puisi, juga racauan di blog ini. Sedangkan ada orang-orang yang menyebutnya sebagai puisi. Padahal saya merasa apa yang dituliskan belum pantas untuk dibilang begitu. Saya berpikir bahwa puisi seharusnya lebih kuat dari itu. Bahwa puisi seharusnya lebih baik dari itu.

Akhir-akhir ini, kepercayaan diri saya bertumbuh mengenai hal ini, racauan tidak lagi disebut racauan, melainkan sudah menjadi puisi yang layak diapresiasikan. Meskipun sesungguhnya apa yang saya tulis tidaklah hebat, atau menggelegar seperti halilintar. Setidaknya, saya sudah bisa menilai, apa yang ada kini sudah lebih pantas bila dibandingkan yang dulu.

Saya menyukai menulis puisi menggunakan paragraf-paragraf. Saya menggunakan rima dalam kalimat dan antarkalimat, dengan rangkaian rima yang berselang-seling. Dulu saya penggemar majas metafora dan personifikasi, dan sering menggunakannya secara berlebihan, sehingga terkadang tidak bisa dipahami selain oleh saya sendiri. Malahan, sesungguhnya memang itu tujuannya, untuk menyamarkan maksud isi tulisan tersebut. Namun, sekarang, saya memilih menggunakan diksi yang lebih sederhana.

Bagi saya, menulis adalah mengurai kegelisahan, mencari jawaban-jawaban, dan menemukan pertanyaan-pertanyaan baru. Sedangkan menulis puisi, adalah cara saya untuk melupakan. Kautahu, ada lubang hitam di kepala saya, dan menulis puisi merupakan cara mengirim ingatan-ingatan ke sana. Saya hanya ingin memindahkan apa yang tertanam kuat di kepala dan butuh tempat lain di kertas, sehingga lenyap tak berbekas. Mengurangi beban yang menggerogoti pikiran. Sehingga menulis puisi adalah cara saya untuk menyembuhkan diri.

amigdala - keterbatasan
amigdalaSejak bulan kemarin saya kembali menulis puisi di kertas. Saya sedang menjalankan program menulis satu puisi setiap hari yang kemudian ditampilkan di Storial dalam buku amigdala. Tidak diduga, amigdala masuk ke daftar buku populer minggu ini di penayangan minggu pertamanya. Saya berencana membuat buku kumpulan puisi berikutnya setelah keseluruhan cerita dalam amigdala selesai. Amigdala adalah kerumunan puisi pendek untuk hidup yang pendek, tentang ibu yang hilang dan seorang anak yang ditinggalkan.

Kamu boleh mengikutinya di sini: http://storial.co/book/amigdala.

Advertisements

BebeHero: Mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak sedini mungkin

Selama bertahun-tahun saya melatih kepekaan empati, karena saya sadar, empati adalah kunci agar umat manusia dapat hidup berdampingan dengan nyaman. Seseorang yang memiliki empati yang kuat, akan mampu berpikir positif mengenai segala hal. Sudah pasti, hal ini akan menjadikan hidup lebih menyenangkan dan lebih mudah dijalani.

Sebelum memiliki anak, saya sudah memiliki rancangan-rancangan pengajaran yang akan saya terapkan kepada anak saya. Semua itu, awalnya hanya berupa konsep yang ada di kepala, dan sesekali saya bagikan kepada istri.

Saat datang ke blogger gathering di BebeHero Park, Mal Kota Kasablanka, Sabtu, 26 Maret lalu. Saya senang. Konsep pengajaran yang ada di kepala saya tersebut dijabarkan dengan jelas melalui #BebeHero yang merupakan kampanye #GrowThemGreat dari Bebelac. Kampanye ini merupakan bentuk dukungan dari Bebelac bagi orangtua untuk dapat membesarkan anak hebat. Bebehero memiliki visi dan misi yang sama dengan saya dalam membesarkan anak. Saya yakin, ada saya-saya lainnya di luaran sana merasakan hal yang sama.

Blogger Gathering di BebeHero Park

Kampanye ini menekankan pada empati. Menurut Roslina Verauli, M.psi. (psikolog dari Rumah Dandelion), empati adalah gerbang dari aksi peduli kepada orang lain termasuk nilai kebaikan yang dimiliki oleh anak. Empati adalah salah satu dari kecerdasan emosional yang merupakan dasar dari karakter kepahlawanan. Selain empati, ada juga altruis, percaya diri, berpikir positif, serta gigih. Kepahlawanan adalah hal yang dilakukan dengan sukarela dan tidak mengharapkan imbalan. Kamu melakukan hal baik bukan karena pamrih, tetapi karena kamu ingin berbuat baik. Untuk anak dapat memiliki aksi hebat, kepahlawanan adalah kuncinya. Aksi hebat itu tidak melulu harus hal-hal besar dan spektakuler, tapi bisa juga berupa hal kecil. Misalnya membereskan mainannya setelah selesai bermain.

Agar nilai-nilai kebaikan ini dapat terpupuk dengan baik, orangtuanya perlu menjadi contoh yang harus ditunjukkan lewat tindakan bukan hanya berupa perkataan. Jadi, dengan selalu memberi contoh baik kepada anak, sesungguhnya orangtua pun turut berkembang menjadi manusia yang lebih baik nantinya.

Permainan Di BebeHero Park

BebeHero Park berada di Mal Kota Kasablanka pada 26-27 Maret. Menyediakan 16 permainan seru yang mengasah kemampuan cepat tanggap dan rasa peduli anak, serta ada konsultasi gratis untuk tumbuh kembang anak dengan para ahlinya. Ada pula rangkaian acara yang salah satu sesi bincang-bincangnya menghadirkan Bambang Pamungkas, pemain sepak bola nasional, yang berbagi cerita mengenai bagaimana dia membesarkan ketiga putrinya.

Agar anak dapat bertumbuh kembang optimal, perlu pula didukung oleh nutrisi yang tepat. Nutrisi yang tepat bisa didapatkan dari Bebelac yang diperkaya vitamin dan mineral yang akan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Vitamin dan mineral tersebut termasuk vitamin a, zat besi, zinc, iodium, dan kalsium.

BebeHero 2016

Saat ini, Bebelac sedang mencari BebeHero 2016, yaitu anak-anak hebat yang tidak hanya cepat tanggap tapi juga punya rasa peduli. Informasi lengkap ada di: www.bebeclub.co.id/growthemgreat

Empati: sebab mulanya

Empati: keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. (KBBI Edisi IV)

Memiliki kepekaan empati, membuat seseorang menjadi lebih berhati-hati. Dalam bersikap, perilaku, bertutur kata. Semua tindakan-tindakan akan dilakukan dengan penuh pemikiran terlebih dahulu.

Empati membuat saya lebih peduli dengan sebab, asal mula. Menjadi peduli tentang sebab mulanya. Segala hal yang terjadi dalam kehidupan, dalam hidup seseorang, pastilah ada asalnya, ada akar yang bisa ditelusuri. Seseorang yang penyendiri, misalnya, ketidakmampuannya dalam bersosialisasi dengan orang lain sudah pasti ada penyebabnya, bisa faktor biologis, psikis, atau pun dari lingkungan. Kita, manusia, adalah pribadi-pribadi yang dibentuk dan ditempa dari hal-hal yang kita alami. Saya tentu tidak tiba-tiba saja berubah menjadi diri saya di masa sekarang, saya telah melalui bertahun-tahun berkontemplasi tentang diri, manusia, tuhan, alam semesta, dan kehidupan. Renungan-renungan panjang ini tidak akan berakhir begitu saja, rasanya. Selama masih ada pertanyaan yang tak terjawab, masa-masa seperti ini akan terus berlangsung panjang.

Empati membantu saya untuk memaklumi seseorang. Dan ini membuat saya menjadi lebih bisa memahami orang lain. Turut merasakan derita, gembira, air mata, serta bahagia. Turut merasakan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan. Empati memaksa saya untuk selalu berpikir positif tentang seseorang, menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang tidak menyenangkan. Segala perilaku baik-buruk pasti ada pemicunya, ada alasan-alasan di sana. Hal-hal ini mengalir begitu saja karena telah dilatih dan dibiasakan. Jikalau ada seseorang yang akhirnya saya nilai begitu negatif, pastinya hal yang dilakukannya sudah begitu buruk hingga melampaui ambang batas tolerasi saya yang empati saja tidak mampu mengatasinya. Selain itu, empati juga membantu menguatkan diri sendiri, membuat diri saya merasa berguna. Membuat diri saya jadi memiliki arti.

Oleh karena itu, dunia dengan manusia-manusia berempati kuat di dalamnya, adalah dunia yang saya harapkan akan ada.